PERANAN penting pulau yang juga sering dijuluki “Tana Doang” dimasa lampau ini, ibarat sebuah kenangan lama yang sudah kabur dan nyaris terkubur. Bahkan terkesan ironis karena bukan hanya orang Sulawesi Selatan secara umum yang kabur akan persoalan ini, tetapi Orang Selayar sendiri juga mengalami hal serupa sehingga membutuhkan sebuah pencerahan. Karena itu, tidak jarang muncul pertanyaan benarkah Selayar yang masih memiliki aneka tinggalan sejarah yang berhubungan dengan sektor kemaritiman ini adalah bukti bahwa orang yang berada di pulau ini adalah pelaut.

Buku ini memberikan gambaran deskriptif tentang peran Selayar dalam panggung sejarah maritim. Sebagai starting point memasuki sisi-sisi penting dari kajian ini, maka karakter Orang Selayar diletakkan sebagai pembahasan awal sekaligus pengenalan lebih dekat terhadap suku Ghele ini. Karakter sosio-kultural suatu masyarakat, secara fundamental berpengaruh signifikan terhadap kecenderungan dan pilihan-pilihan hidupnya. Karena itu, mengetahui mentalitas suku pemakai bahasa dialek Makassar ini, mutlak dilakukan dalam upaya menelusuri jiwa kebahariannya.

Mengingat adanya ragam penafsiran terhadap makna kata Selayar, maka kajian berikutnya dalam buku ini digambarkan mengenai asal usul penamaannya yang juga berkonotasi maritim. Demikian pula segenap potensi yang dimiliki, digambarkan berdasarkan hampiran teori Alfred Thayer Mahan tentang 6 (enam) unsur yang menentukan dapat tidaknya kekuatan laut suatu negara berkembang.

Bagian berikutnya diulas tentang Tradisi Nyombala dengan menggunakan hampiran teori push-factors dan full-factors penyebab terjadinya migrasi. Pendekatan ini dimaksudkan untuk mengetahui motif yang mendorong orang Selayar meninggalkan kampung halaman, apakah karena jiwa bahari atau naluri perantau. Belum lagi terjawab teka-teki menyangkut sisi kelampauan penghuni pulau terselatan dari Jazirah Celebes ini, mereka harus berbaur di antara kepenasaranan kolektif tentang keberadaan sejumlah benda bersejarah. Karena itu, Nekara Perunggu yang telah dijadikan benda ritual penduduk setempat keberadaannya dihubungkan dengan kebudayaan Dongsong. Demikian pula jangkar raksasa yang telah dimitos-kultuskan sebagai balango lopinna Sawerigading (jangkar perahu Sawerigading), dikaji dalam hubungannya dengan kiprah pulau ini di masa lampau. Untuk mensinergikan impian pemerintah menjadikan Selayar sebagai kabupaten maritim dengan segenap potensi yang dimiliki, maka peranan penting pulau ini dalam jaringan pelayaran dan perdagangan juga dianalisis secara historis.

Melengkapi kajian ini maka digambarkan mengenai kabupaten maritim dalam pergumulan antara cita-cita dan realita, dan diakhiri dengan sulitnya mencetak generasi pelaut karena problema mentalitas. Mengingat kabupaten ini memiliki wilayah administatif sangat luas serta penduduk yang tersebar di berbagai pulau, maka kajian secara komprehensif terhadapnya sangat sulit untuk dilakukan. Karena itu, dengan beberapa alasan kajian ini hanya dibatasi pada deskripsi sekitar orang Selayar daratan yang juga banyak bermukim di sepanjang pantai dari pelabuhan Pamatata (di sebelah utara) hingga Appatana (di sebelah selatan) serta pantai timur. Pertama, batasan spasial ini memang harus diakui tidak meng-cover secara representatif masyarakat Selayar secara keseluruhan terutama yang mendiami wilayah kepulauan. Akan tetapi, Selayar daratan sengaja dipilih sebagai lingkup kajian karena merupakan basis dinamika masyarakat asli. Sebaliknya, masyarakat pulau telah terkontaminasi secara integratif dalam proses akulturasi budaya. Kedua, di Selayar daratan merupakan basis pembentukan karakter lokal sebagai warisan masyarakat pra kerajaan, masa kerajaan, masa Gallarang, dan masa penting lainnya di Tana Doang. Karena itu, mentalitas yang terpola sebagai warisan setiap masa tersebut menjadi penentu kecenderungan, corak, dan pilihan hidup masyarakat Selayar kemudian.

Deretan uraian yang mengisi setiap bagian dari buku ini, akan menjawab pertanyaan mengenai “Pelautkah Orang Selayar”, berdasarkan bukti-bukti sejarah. Bahkan akan menjadi bukti apakah orang Selayar memang pelaut dengan sejumlah kelebihan yang dimiliki atau justru hanya sebuah kebanggaan apologik di atas wacana tanpa realita.

Spesifikasi Buku:

  • Pengarang: Ahmadin
  • Penerbit: Ombak, Yogyakarta
  • Ukuran: 12 × 18 cm
  • Tebal: 186 hlm
  • Terbit: 2006

Ahmadin, A. (2006). Pelautkah Orang Selayar: Tana Doang dalam Catatan Sejarah Maritim. Ombak.

Topics #Nusa Selayar #Pelautkah Orang Selayar #Sejarah Selayar #Selayan dalam Catatan Sejarah Maritim #Selayarnesia