Beranda Learning Memahami Kota Melalui Pendekatan Teori Ekologi Sosial

Memahami Kota Melalui Pendekatan Teori Ekologi Sosial

0

MENGKAJI tentang konsep ekologi sosial, sebenarnya memiliki keserupaan makna dengan istilah human ecology (ekologi manusia). Menurut Daldjoeni (1997: 89), istilah ini telah dipopulerkan sejak tahun 1920-an di dalam sosiologi Amerika, terutama para pengagum aliran Chicago bernama ”Human Ecology”. Aktivitas mereka yakni menstudi interelasi manusia dengan lingkungannya (fisis, sosial, dan teknis) terutama ditujukan pada kepada manusia di kota-kota. Karena itu, menurutnya relasi manusia dengan lingkungannya mengandung dua aspek penting, yakni relasi manusia sebagai individu dengan lingkungannya dan relasi manusia sebagai kelompok dengan lingkungannya.

Tradisi ilmiah dan model penelitian ala Mashab Chicago ini, dalam perkembangannya melahirkan banyak pengikut terutama teori ekologi sosial perkotaan. Sosiolog pengikut aliran ini memfokuskan perhatian pada kajian tentang bagaimana masalah perkotaan mengalami situasi kacau yang dalam waktu singkat menimbulkan arus migrasi dari berbagai lingkungan etnik dan bagaimana pertumbuhan praktis tidak terkendali timbul. Selain itu, kajian ekologi sosial ini menyorot struktur-struktur yang terpilah-pilih dengan ciri-ciri hubungan sosial yang khas. Demikian pula, struktur kota yang luas menurutnya muncul sebagai prinsip keteraturan dan integrasi nyata yang dengan menelusuri landasan struktur kekeluargaan menunjukkan juga sifat-sifat heterogen dari golongan etnik, diferensisasi pekerjaan, kriminalitas dan bentuk-bentuk ekonomi (Evers, 1995: 3).

Dalam perspektif ekologi sosial, kota dibagi atas bentuk wilayah alami dan wilayah sosial. Karena itu, arus migrasi asing yang tidak cocok masuk ke dalam struktur wilayah sosial tertentu, akan saling menyesuaikan diri dan menjaga keseimbangan serta kota pun mengalami perubahan bentuk. Atas dasar pemikiran seperti ini, Burges (baca Evers, 1995: 4) merumuskan sebuah tesis bahwa wilayah-wilayah sosial dengan ciri-ciri sosial dan ekonomi kota tersusun menyerupai bentuk lingkaran mengelilingi pusat. Kemudian variabel-variabel untuk mengukur ciri secara sistematis ini dengan struktur harga tanah, dimana semakin dekat tanah dari pusat kota maka semakin mahal harganya. Sebaliknya, semakin jauh tanah dari pusat kota maka semakin murah pula harganya.

Merujuk pada warisan ilmiah dari Amerika tersebut, maka ekologi sosial dapat dimaknai sebagai studi tentang hubungan sosial yang terikat oleh waktu dan ruang, sebagaimana ini dibentuk oleh kekuatan-kekuatan selektif dan distributif dari lingkungan. Selain itu, ekologi sosial juga dapat didefinisikan dalam tiga pengertian sebagai berikut:

  1. Ekologi sosial sebagai studi tentang relasi sub-sosial antar manusia. Aspek sub-sosial dalam konteks ini diartikan sebagai keseluruhan relasi yang non-personal antar manusia, yang bermunculan dari rasa senasib sosial yang sama yang tidak dapat diterangkan dari interaksi manusia yang disadari.
  2. Ekologi sosial sebagai studi tentang daerah-daerah sosial budaya (cultural areas). Dengan ini dimaksudkan bagian-bagian dari kota tertentu yang bercorak khas karena penghuninya, misalnya daerah pedagang, emigran, pegawai tinggi, jorok, dan sebagainya. Masing-masing itu dipandang sebagai kesatuan dan analisa menurut kehidupan keruangan sosial dan kulturalnya.
  3. Ekologi sosial berfungsi menggambarkan sebaran keruangan dari gejala sosial. Karena itu, ekologi sosial dirasa lebih baik dipandang sebagai metode daripada teori untuk meneliti masyarakat. Metode ini diarahkan pada pencarian dan pemetaan persebaran keruangan dari gejala-gejala sosial tertentu (Daldjoeni, 1997:89-90).

Selain itu, ekologi sosial juga didefinisikan sebagai studi hubungan-hubungan sosial yang terdapat pada waktu dan ruang. Hubungan sosial terjadi karena berbagai kekuatan yang terdapat dalam lingkungan dan ini memiliki sifat selektif dan distributif. Karena itu, jika sosiologi pada dasarnya mengkaji struktur masyarakat manusia serta fungsinya, maka ekologi sosial dapat didefinisikan sebagai bagian dari sosiologi yang memfokuskan studi tentang struktur dan fungsi masyarakat manusia di dalam lingkunganya (McKenzie dalam Daldjoeni, 1997:91).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat diketahui bahwa ekologi sosial sesungguhnya memfokuskan kajian pada aspek proses termasuk sebab atau motif terjadinya sesuatu serta meramalkan secara prediktif kemungkinan konsekuensi yang bakal muncul di masa mendatang. Karena itu, dalam telaah ilmiah yang menggunakan pendekatan ekologi sosial termasuk kajian ini yang menyorot tentang perubahan struktur ruang pemukiman di Makassar ini, tidak boleh mengabaikan pentingnya sejarah sebagai ”sumur” informasi tentang proses.

MCKenzie yang pernah melakukan riset di Kota Chicago 1925, menggambarkan tentang proses ekologis dalam wujud invasi dalam beberapa tahap yakni initial stage (tahap permulaan), secondary stage (tahap lanjutan), dan climax stage (tahap klimaks). Proses permulaan menurutnya, ditandai oleh adanya gejala ekspansi geografis dari suatu grup sosial yang ada dan kemudian menemui tantangan dari penduduk yang ada pada daerah yang terkena ekspansi. Pada tahap lanjutan, persaingan semakin seru yang kemudian diikuti oleh proses displacement (perpindahan), selection (seleksi), dan assimilation (asimilasi). Intensitas ketiganya, ditentukan oleh sifat yang mengekspansi dan diekspansi. Kelompok-kelompok yang terpaksa kalah bersaing, akan menempati atau mengadakan ekspasi ke wilayah lain yang lebih lemah dan kemudian diikuti oleh suksesi baru. Pada saat terakhir inilah, akan mencapai klimaks dan proses ini akan terjadi terus-menerus silih berganti sehingga mengakibatkan semakin luasnya zona melingkar konsentris (Yunus, 2004: 7-8).

(Sumber: Buku “Sosiologi Ruang Perkotaan: Dialektika Spasial & Reproduksi Ruang Sosial di Makassar” karya Ahmadin).