Beranda Pojok Urban Kota, Kemacetan, & Asal Mula Lampu Lalu Lintas

Kota, Kemacetan, & Asal Mula Lampu Lalu Lintas

0

LAMPU lalu lintas merupakan bagian penting tak terceraikan dari kehidupan kota, terutama dalam aktivitas di jalan raya. Bisa dibayangkan sebuah kota dengan jumlah kendaraan cukup padat tanpa sebuah sistem regulasi bernama Lampu Lalu Lintas, sudah pasti mengalami kamacetan hebat. Lampu lalu lintas juga biasa disebut APILL (Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas), yang berfungsi mengatur serta mengedalikan arus lalu lintas. Alat yang juga disebut Traffic Light ini, dipasang di persimpangan jalan serta tempat penyeberangan pelajan kaki (zebra cross).

Pentingnya alat ini sehingga dianggap sebagai lampu keamanan dan keselamatan masyarakat bagi pengguna jalan. Seperti diketahui mereka yang menaati peraturan lalu lintas cenderung terhindar dari kecelakaan, sebaliknya yang melanggar kerap mengalami kecelakaan. Dalam banyak kasus oknum-oknum yang mencoba menorobos lampu lalu lintas tanda berhenti (merah) mengalami kecelakaan akibat tabrakan. Sebagian dari mereka ada yang hanya mengalami luka-luka, namun tidak sedikit juga meninggal dunia.

Lalu dari mana sesungguhnya bermula dan asal usul Lampu Lalu Lintas itu? Dalam sejarah tercatat bahwa alat ini (bentuk manual) pertama kali ditemukenali di London, Inggris abad ke-19.

Seperti diketahui London pernah menjadi pemecah rekor sebagai kota terburuk pengelolaan lalu lintasnya, karena kemacetan luar biasa. Ibukota negara Inggris ini tercatat sebagai kota termacet ke-25 di dunia. Tercatat saat itu terdapat sekira 13 ribu jumlah kendaraan yang beroperasi di ruas jalan kota ini.

Kemacetan London abad ke-19 ini diulas dalam sebuah buku bertajuk Victorian London: The Life of a City 1840-1870 (2006) yang ditulis oleh Sejarawan Inggris, Liza Picard. Buku terbitan Phoenix House setebal 496 ini merupakan representasi dari minat penulisnya yang tertarik pada realitas kehidupan sehari-hari (everyday life) dan kondisi di mana kebanyakan orang hidup. Menurut alumnus London School of Economics and Polical Science dan kelahiran Britania Raya (1927) ini, fenomena tersebut sering terabaikan dalam buku-buku sejarah.

Menurut BBC, seperti dikutip dari Hai-online.com, disebutkan bahwa kereta kuda dan pejalan kaki telah memadati jalan-jalan Kota London. Hal ini mendorong sang manajer kereta api Inggris, John Peake Knight, menyarankan untuk mengadaptasi metode semapur yang biasa digunakan kereta api untuk mengontrol lalu lintas di jalan raya.

Disebutkan pula melalui metode adaptasi Knight, sinyal lalu lintas akan menampilkan tanda “Stop” dan “Go” di siang hari, dan pada malam hari, lampu berwarna merah dan hijau akan digunakan. Lampu gas akan menerangi tanda tersebut. Seorang petugas polisi ditempatkan tidak jauh dari sinyal lalu lintas itu untuk mengoperasikannya.

Masih menurut Hai-online.com, sinyal lalu lintas pertama di dunia tersebut dipasang pada 9 Desember 1868, di persimpangan Bridge Street dan Great George Street di wilayah Westminster, London, dekat Houses of Parliament dan Westminster Bridge. Namun sayang sekali hanya selang sebulan lamanya, seorang polisi yang bertugas mengontrol sinyal tersebut terluka parah akibat ledakan lampu karena kebocoran gas. Sejak saat itu, produk ini dianggap berbahaya dan lalu akhirnya dicopot.

Dalam perkembangannya lampu lalu lintas listrik akhirnya ditemukan oleh Lester Farnsworth Wire di Salt Lake City, Uta, Amerika Serikat yang mengenalkan lampu lalu lintas yang mulai digunakan sejak 1912. Awalnya lampu lalu lintas yang digunakan hanya terdiri atas dua warna yakni hijau (move = bergerak) dan merah (stop = berhenti).

Dalam perkembangannya, alat ini terus dimodifikasi hingga menemukan bentuknya yang modern. Dalam sebuah buku berjudul How the Authomobile Change History: Essential Library of Invention (2015) karangan Diane Bailey disebutkan bahwa lampu modern pertama dipasang di persimpangan jalan antara Eucid Avenue dan East 105th Street, Cleveland, Ohio, Amerika Serikat.

Sekadar diungkapkan bahwa buku terbitan Abdo Publishing setebal 112 halaman ini, juga mengulas sejarah otomotif dengan mengkaji awal mula mobil sebagai kereta bermotor, cara kerjanya, serta evolusinya hingga mewujud transportasi utama di dunia karena pengaruh budaya, industri, dan lingkungan.

Ilustrasi lampu lalu lintas. – Foto: Realita Rakyat

Lampu Lalu Lintas dalam perkembangannya tidak sebatas alat untuk mengatur arus lalu lintas, tetapi kemudian menjelma produk hukum di Amerika Serikat bernama Federal Aid Road Act. Undang-undang pendanaan jalan raya federal ini, pertama kali disahkan di Amerika Serikat pada 11 Juni 1916. Hal ini dimaksudkan bahwa legalitas hukum memungkinkan alat ini berfungsi maksimal dalam peningkatan kualitas jalan serta nilai gunanya bagi segenap masyarakat.

Alat pengatur lalu lintas ini kemudian dimodifikasi lagi hingga mengalami penambahan satu fungsi yakni lampu kuning sebagai isyarat hati-hati yang dikenalkan oleh Garret Morgan pada 1916. Sejak saat itu warna lampu lalu lintas menjadi 3 varian yakni merah tanda berhenti, hijau isyarat bergerak, dan kuning simbol hati-hati. Pemimpin komunitas Afrika-Amerika bernama lengkap Garret Augustus Morgan ini, awalnya menggunakan sinyal lalu lintas 3 warna ini dalam penyelamatan bencana konstruksi terowongan (1916).

Demikianlah sejarah awal mula penggunaan lampu lalu lintas  yang dalam perkembangan mengalami perubahan hingga mewujud seperti yang digunakan di persimpangan jalan serta penyeberangan pada kota-kota di dunia dan juga di Indonesia.

* Penulis adalah pengarang buku “Menemukan Makassar di Lorong Waktu”.