DALAM bahasa Indonesia, kapalli’ sepadan dengan istilah pantang atau larangan (tabu, pemali). Meskipun demikian, makna kultural yang dikandungnya tidaklah sesempit dan sesederhana sebagaimana telah ditafsirkan secara keliru oleh sebagian orang. Penulis buku ini menggunakan analisis fungsional, dalam menafsir kapalli’ yang dipotret dari sudut pandang tujuan atau alat (strategi kebudayaan), dan aspek normatif (sosial kontrol).

Buku ini mengulas 3 (tiga) kategori utama terkait fungsi dan kedudukan kapalli’, yakni: Pappasang (pesan), Pappisangka (larangan), dan Pau-pau naseha’ (petuah atau nasihat). Dalam operasionalnya kapalli’ juga dapat digolongkan ke dalam beberapa jenis, yakni:  bentuk sikap dan tingkah laku (perbuatan); penggunaan barang atau benda tertentu;  perlakukan terhadap barang tertentu;  penggunaan waktu-waktu tertentu dalam mengerjakan sesuatu; dan  desain atau bangunan tertentu.

Arus evolusi modernitas yang telah (sedang) menenggelamkan fungsi kapalli’ sebagai kearifan lokal masyarakat Selayar tersebut, menulis penulis buku ini dianggap perlu disegarkan kembali dan bahkan setelah ia mati sekalipun harus “dihidupkan kembali” dalam bentuk “renaissance”. Betapa tidak, hal-hal yang dalam pandangan banyak orang ini adalah irrasional rupanya memiliki dimensi fungsional terutama sebagai alat kontrol dan rekayasa sosial. Dengan kata lain bahwa pentingnya meta kognisi mengenai kapalli’ merupakan gerakan kebudayaan berdimensi historis yang perlu dilakukan.

Spesifikasi Buku:

  • Pengarang:  Ahmadin dan Jumadi
  • Penerbit: Rayhan Intermedia
  • Ukuran: 14 x 21 cm
  • Tebal: 111 hlm (x + 101)
  • Cetakan: I, Nopember 2009
  • ISBN: 978-602-95545-2-6
Topics #Budaya Selayar #Kabupaten Kepulauan Selayar #Kearifan Lokal Orang Selayar #Sejarah Selayar