KOWLOON-HONG KONG, PROFAU.COM – Di atas sebuah spring bed pada kamar 1617 hotel berbintang 4 bernama Best Western itu, kurebahkan tubuhku sejenak melepas lelah. Sejurus kemudian aku menyambar bungkusan makanan di atas sebuah meja lalu menikmatinya. Sebuah menu halal nasi goreng ala Indonesia dengan campuran sea food, dadar telur, dan kerupuk Jawa. Untuk ukuran perut yang sedang kosong dan lapar yang sangat, tentu menu ini cukup gurih.

Aku tak sanggup menghabiskan menu itu. Apakah tidak enak? Tentu saja bukan. Mungkin karena waktu makan sudah lewat, sehingga selera mulai menurun perlahan. Akhirnya, separuh dari nasi goreng bungkus ini harus tersisa dan aku bungkus kembali dengan seikat karet. Bukan untuk dibuang di tempat sampah menunggu basi dan lalu jadi konsumsi semut, tapi akan menjadi teman begadang malam itu.

Sedikit begadang untuk malam pertama di Hong Kong, menurutku penting untuk sebuah misi ilmiah. Ada prapengetahuan hasil bacaan yang harus aku perjumpakan dan bahkan didialogkan dengan fakta yang kujumpai sekarang. Selain itu, aku juga mendapat amanah untuk membuat sebuah laporan jurnalistik (catatan perjalanan) mengenai Hong Kong yang akan dimuat di portal berita Tebar News. Bahkan teman-teman penulis di Kota Makassar, melalui SMS selalu mengingatkan agar tidak lupa membawa oleh-oleh sepulang dari Hong Kong yakni berupa tulisan.

Selama ini aku hanya mengenal Hong Kong lewat bacaan buku-buku sejarah Asia Timur, koran dan surat kabar, lewat situs-situs internet, serta cerita lisan dari orang-orang. Tapi sekarang semua itu mewujud dalam rupa pengalaman langsung karena mendapat kesempatan berkunjung ke sini. Dan sebagian kecil atau separuhnya telah kunikmati sepanjang perjalanan selama kurang lebih 45 menit dari bandara.

Hong Kong memang hanya sebuah negeri kecil dan lebih luas Pulau Dewata Bali. Seperti yang pernah aku baca, luas wilayahnya hanya 2.755 km2, sedangkan luas Pulau Bali adalah 5.780 km2. Wilayah yang sempit ini inilah yang “memaksa” pihak pemerintah Hong Kong memaksimalkan pembangunan negerinya. Menciptakan ruang-ruang produk reklamasi hingga bertumbuhlah gedung-gedung pencakar langit dan ruang-ruang kota yang baru.

Tak pelak lagi Hong Kong pun menjelma kota paling vertikal di dunia. Ia terkenal sebagai salah satu negara di Asia yang banyak dikunjungi para wisatawan dan bahkan meraih predikat sebagai destinasi wisata ternama ke-11 dunia.

Siapa yang tidak kenal Hong Kong?, ia adalah salah satu kota termasyhur dunia yang berlokasi di bagian tenggara Tiongkok, tepatnya di Pearl River Estuari dan Laut Tiongkok Selatan. Kota ini tertabur gedung-gedung pencakar langit serta memiliki Victoria Harbour yang merupakan sebuah pelabuhan terbesar Asia dan menempati ranking ke-3 dunia setelah San Francisco di Amerika Serikat dan Rio De Janeiro di Brasil. Begitulah sejarah menjelaskan tentang perkembangan dan kemajuan negeri ini.

Dingin malam mulai menggigit tubuhku. Meresap ke dalam pori-pori kulit, menusuk tulang sum-sum dan akupun menggigil. Perpaduan iklim Hong Kong di waktu malam yang mencapai 19 derajat celcius dengan dingin AC kamar, membuat tubuhku tak kuasa melawannya.

Segera kuraih jaket yang sebelumnya kugantung di salah satu sudut kamar lalu memakainya. Jaket berbahan kain tebal ini sedikit membantu mencipta hangat sebagian tubuhku. Sementara di sebelahku sang istri tercinta yang juga turut dalam perjalanan ini kulihat telah lelap dalam mimpinya, dengan selimut tebal 90 persen menutupi tubuhnya karena kedinginan.

Sebuah minuman susu instant dalam kemasan kulihat sudah tersedia di atas meja kecil di sudut sana. Segera kuhampiri dan meneguknya separuh. Aku berharap segelas minuman dan sedikit kue kering ini membantuku menemukan berbagai inspirasi menulis sehingga benar-benar dapat membawakan oleh-oleh tulisan untuk para sahabatku seperti yang mereka minta.

Tidak seperti biasa yang menggunakan malam untuk membenahi produk di toko online milikku, malam itu kembali aku meneruskan proses permenungan. Aku berusaha menyusun lupa dan menata ingat tentang sejarah. Tentang Hong Kong masa lampau.  Dan sebagai mantan mahasiswa yang pernah mengkaji kota dalam perspektif sosiologi ruang dengan pendekatan sejarah, aku tertarik memulai proses penemukenalan kembali Kota Hong Kong dari aspek ruang geografis.

Kucoba mengingat kembali beberapa konsep ruang kota yang pernah kutulis saat menyelesaikan studi program doktoral 2011 lalu.

“Kota secara sosial terbentuk bukan tanpa intervensi manusia, melainkan sarat dengan dinamika lembaga maupun relasi sosial. Bahkan berbagai ruang dalam kota yang telah diberi dan memiliki makna sedemikian rupa, sesungguhnya dibentuk oleh suatu proses sosial yang senantiasa mengalami perubahan dari masa ke masa”, kurang lebih seperti itulah prawacana yang pernah kutulis.

Terbayang kembali bagaimana seorang Hans Dieter Evers, sang penulis buku “Makna Kekuasaan Dalam Ruang-Ruang Sosial di Asia Tenggara” menulis 3 (tiga) desain kontruksi (kontruksi emik, kontruksi kultural, dan konstruksi ekonomi) yang digunakan sebagai kerangka konseptual untuk melihat ikhwal perubahan kota.

Dari sini aku membayangkan sosok-sosok arsitek tangguh dan para perencana kota visioner yang ada di balik mega proyek pembangunan megah Kota Hong Kong yang konon memiliki lebih dari 7.600 gedung pencakar langit.

“Tapi sudahlah, sebaiknya aku simpan dulu daftar pertanyaan ini sembari menunggu kunjungan esok hari”, kataku dalam hati.

Rasa penasaran berlanjut tentang geografi Hong Kong yang masih mengganjal di benak, mengajakku meraih sebuah gadget dari dalam sebuah tas.

Segera kubuka situs Wikipedia dan membacanya. Dari situ aku mengetahui bahwa posisi Hong Kong secara geografis yang teletak di laut Tiongkok Selatan, 60 km (37 ml) sebelah timur Makau di sisi berlawanan dari Pearl River Delta. Hong Kong dikelilingi Laut Tiongkok Selatan di timur, selatan, dan barat, serta berbatasan dengan Kota Shenzhen di utara, di seberang Sungai Sham Chun (Sungai Shenzhen).

Dari Wikipedia juga aku membaca dan menemukan bahwa sebagian besar daratan Hong Kong terdiri atas pegunungan dengan tingkat kecuraman tajam dan ini menyebabkan kurang dari 25 persen luas daerahnya yang terbangun. Selebihnya sekitar 40 persen luas daratan dijadikan taman kota dan cagar alam.

Satu hal menarik dari informasi ini bahwa vegetasi ketinggian rendah di Hong Kong didominasi oleh hutan hujan sekunder, karena hutan primernya telah hancur saat Perang Dunia II. Lalu di mana konsentrasi pembangunan kotanya?.

Eksiklopedia online ini menjelaskan sebagian besar pengembangan kota kawasan ini berada di Semenajung Kowloon tepatnya di sepanjang pesisir utara Pulau Hong Kong dan seluruh New Territories. Adapun titik tertinggi di negara ini adalah Tai Mo Shan, yakni 957 meter (3.140 ft) di atas permukaan laut.

Struktur spasial Hong Kong dengan kawasan pesisir yang memanjang, menjadikan ia memiliki banyak sungai dan pantai. Tidak heran jika UNESCO pada 18 September 2011 lalu, memasukkan Hong Kong National Geopark ke dalam Global Geoparks Network. Adapun Hong Kong Geopark ini terdiri atas 8 geo-area yang terbagi sepanjang kawasan batuan vulkanik Sai Kung dan kawasan batuan sedimen timur laut New Territories.

Dari Kamar 1617 Hotel Best Western ini, setidaknya proses “meraba semesta Hong Kong” kembali berlanjut meski via perpaduan ingatan bacaan sejarah dan bacaan ensiklopedia online bernama Wikipedia. Ziarah ke masa lampau Hong Kong tak terasa membawaku ke puncak malam dan waktu Hong Kong sudah menunjuk pukul 24.00 WH. Aku kemudian…………

Selengkapnya dapat dibaca di Buku “Meraba Semesta Hong Kong”

*Catatan perjalanan Ahmadin Umar di Hong Kong (2017)

[foto: kkday]

Topics #10 Obyek Wisata Andalan Hong Kong #Berita Hong Kong #Daftar Nama-nama Hotel di Hong Kong #Hong Kong News #Hong Kong Tour #Kota Kowloon #Liburan di Hong Kong #Meraba Semesta Hong Kong #Obyek Wisata Hong Kong #Penginapan di Hong Kong