SENJA jingga baru saja berganti malam. Seorang gadis manis sudah asyik bermain laptop di warkop itu. Namanya Irawati mahasiswi yang baru saja menyelesaikan studi pada salah satu perguruan tinggi di Kota Makassar. Jari jemarinya yang putih bersih itu menari indah pada permukaan mouse komputer lipat di hadapannya. Matanya yang kecil imut memandang sangat serius ke arah layar perangkat elektronik berwarna hitam itu. Ia sedang mencari sesuatu.

Dari sofa yang tidak begitu jauh, sesosok pemuda bernama Fikri terlihat sedang memerhatikan kegelisahan sang pemilik rambut lurus nan indah itu. Fikri melihat satu demi satu menu di situs itu yang diklik sang cewek silih beganti. Sepertinya ia gagal menemukan sesuatu yang dicari.

Mata Fikri menatap tajam ke arah website yang dibuka perempuan itu. Ia sangat kenal dan akrab dengan portal tersebut, karena ia adalah pembaca setia sekaligus penulis di situs ruang tempat berbagi pengetahuan itu.

“Assalamu alaikum. Mohon maaf, jika mengganggu”, sapa Fikri lembut.
“Wa alaikum salam”, jawab Ira setengah ikhlas dengan gaya cuek. Hanya separuh tatapnya ia berikan kepada Fikri.

“Apa bisa saya bantu, mbak?”, tanya Fikri seraya merapikan beberapa kertas dan alat tulis yang berserak di atas meja.

“Terima kasih. Saya masih bisa kerjakan sendiri”, jawab sang cewek lagi-lagi rada cuek padahal ia sesungguhnya butuh bantuan.

“Tapi aku mungkin bisa membantu menemukan apa yang mbak cari”, bujuk Fikri yang masih berdiri di sisi meja itu.

“Memangnya kamu pernah buka dan kenal situs bernama Kampung Virtual ini?”.

Mendengar hal itu Fikri hanya tersenyum tipis dengan sebuah keyakinan bahwa sang cewek manis ini mulai menerima tawarannya. Cewek imut berparas cantik itu segera menggeser duduknya ke samping kiri dan Fikri faham akan isyarat itu.

“Boleh aku duduk di sini?”
“Iya. Ayo bantu aku jika memang bisa”
“Oke. Siap”
“Siap…siap. Ayo dari tadi kamu senyum-senyum saja di situ”.

Fikri segera duduk di sampingnya dengan jarak sekira dua jengkal, seperti permintaan sang cewek. Sementara itu laptop Fikri sendiri dibiarkan berada di meja sebelah. Sebuah mouse di tangan Ira kemudian disedorkan ke Fikri. Namun Fikri menolaknya dengan alasan tidak bisa memakai alat seperti itu.

“Tidak biasa pakai mouse? Kamu ini aneh”
“Aneh bagaimana maksudnya?”
“Semua orang pakai mouse agar mengoperasikan laptop jadi lancar”
“Ah. Tidak selamanya. Lihat saja nanti”.

Fikri kemudian menunjukkan kepiawaiannya memainkan tombol atau tuts laptop milik Ira dan memungsikannya tanpa bantuan mouse. Sementara itu, dengan sedikit kecewa Ira menarik kembali mouse yang disedorkan barusan. Benda kecil itu lalu diletakkan kembali di atas meja dan lalu meraih sebuah dompet coklat dari dalam tas ransel miliknya.

“Kamu mau minum apa?”
“Iya. Apa saja aku ikut”
“Payah, dasar orang aneh”
“Jangan galak gitu, mbak. Santai saja”

Ia tidak menggubris kata-kata Fikri barusan dan malah beranjak dari kursi tempat mereka duduk menuju ke salah satu ruang warkop itu. Tidak lama kemudian ia sudah kembali membawa 2 gelas minuman juice jeruk.

“Apa kakak suka minum juice jeruk?”, tanyanya lirih lembut. Sangat kontras dengan gayanya beberapa menit lalu. Fikri merasa bahagia karena tiba-tiba sang perempuan itu menyapa dengan panggilan kakak.

“Iya suka. Apa saja pilihan kamu untukku pasti aku suka”, kata Fikri sedikit mulai merayu.

“Ah. Kakak jangan gombal deh”, tampiknya dengan senyuman yang semakin manis.

Rupanya sewaktu mengambil minuman barusan, Fikri tidak sadar jika dirinya diperhatikan oleh Ira dari jauh. Biasanya pelayan yang mengantarkan minuman ke meja dan pengunjung tinggal pesan. Tapi ini merupakan inisiatif Ira yang mengambil minuman itu sekaligus untuk bisa memandang pemuda ganteng yang diam-diam disukainya itu.

“Ayo diminum jusnya”
“Aku tidak akan minum sebelum selesai dua hal”
“Maksud kakak apa?”
“Sebelum menemukan situs dan tau nama kamu”.
“Oh iya, lupa. Kakak memang paling pandai menggoda”, katanya sambil menepuk lembut pundak Fikri.
“Iya aku serius. Nih sudah terbuka situs yang kamu cari”, katanya seraya menunjuk ke layar laptop.

Di situ terlihat sebuah laman website dengan domain KampungVirtual.id dan dilengkapi hurup “K” berwarna biru dengan motif garis sebagai logo. Pun di bagian atas website tertulis “Kampungnya Orang Biasa”. Ira sangat gembira melihat itu, karena sudah ketemu website yang pernah diceritakan temannya.

Ia menggeser duduknya lebih dekat ke Fikri dan sebaliknya Fikri bergerak menjauh. Fikri tersenyum menyejek dan mencoba mengerjai Ira.

“Kenapa kakak menjauh?”
“Bukankah harus jaga jarak minimal 2 cengkal?”
“Itu kan tadi saat aku belum kenal kakak”
“Memang kamu sudah kenal saya?”.

Ia tidak mejawab pertanyaan Fikri dan malah mengulurkan tangannya untuk salaman. Dari matanya terpancar isyarat suka.

“Namaku Ira, nama kakak siapa?”
“Saya…!”
“Iya siapa lagi. Kan hanya kita berdua yang ngobrol”
“Aku terserah kamu saja”
“Ini bukan minuman, tapi nama”
“Aku sudah bilang apapun pilihanmu pasti aku suka”
“Ya sudah. Daripada berdebat, kakak kupanggil Kavi saja”
“Iya terserah kamu”

Fikri kemudian meminum juice jeruk yang tersedia di atas meja sambil sesekali senyum ke arah Ira. Dalam diam sepasang mata mereka saling bercakap. Tidak ada seorangpun pengunjung yang memerhatikan mereka karena masing-masing sibuk dengan aktivitasnya. Kecuali alunan musik lembut dari lagu I Still Loving You milik Scorpion yang menjadi saksi bisu.

Rupanya meski sedikit aneh dan menjengkelkan, sang perempuan asal Kota Tual Provinsi Maluku itu mulai suka pada lelaki di sampingnya. Mereka kini semakin akrab dan tidak ada kalimat galak lagi terlontar dari mulut Ira. Semua berubah lembut romantis seiring rasa saling suka terjalin di antara mereka.

Perempuan yang gemar menulis itu, sangat menyukai situs publikasi online KampungVirtual.id. Ia semakin larut dalam bacaan kesukaannya yakni cerpen dan puisi pada rubrik fiksi di situs itu.

Sementara itu, Fikri hanya memerhatikan cewek manis di sampingnya sambil tersenyum gembira. Ada perasaan bahagia dalam hati Fikri sang pemuda kelahiran Makassar itu karena telah berhasil menolong seorang cewek cantik dan sukses meluluhkan hatinya.

“Kakak Kavi, apa rahasianya hingga dengan mudahnya situs ini”?, tanya Ira penasaran.

Fikri berpura-pura tidur dan seolah tidak mendengar pertanyaan Ira. Tubuhnya bersandar di sofa warkop dengan mata terpejam seperti sedang benar-benar tertidur.

“Dasar cowok aneh”, gerutu Ira dalam hati. Ia merasa tidak dihargai karena ngomong sendiri dan si cowok itu malah tertidur. Tapi di balik itu, rasa kecewa sempat impas oleh jasa baik Fikri yang bisa mengantarnya masuk ke Kampung Virtual.

Ira kembali fokus memerhatikan situs idamannya itu dan mulai membaca beberapa prasyarat untuk jadi penulis yang ditelusuri pada rubrik “Masuk Kampung”.

Fikri masih saja terus berpura-pura tidur, ketika Ira mulai membaca halaman demi halaman situs itu. Ira mulai membaca profil Kampung Virtual, FAQ, Registrasi, Panduan, Nulis di Kampung, Disclaimer, dan Kebijakan Privasi. Bahkan sempat membaca beberapa cerpen dan puisi pada rubrik fiksi.

Beberapa menit kemudian Ira mencoba membangunkan Fikri dengan cara bernyanyi. Lirik lagu yang disenandungkan cukup merdu itu bertajuk Memory Berkasih yang sempat populer di Youtube oleh duet penyanyi Fildan dan Baby Shima.

“Menangis hati ini”, nyanyi Ira langsung ke bagian reffnya. Ia dengan sengaja ingin memperdengarkan suaranya dan berharap Fikri bisa terbangun dari tidurnya.

Alangkah kagetnya Ira ketika tiba-tiba dengan vokal yang tidak kalah merdu, Fikri membalas lagu itu.

“Ku juga bersimpati”.

Seolah sudah disetting sebelumnya, keduanya pun menuntaskan lagu itu dengan beduet. Sungguh sebuah kolaborasi apik dan sangat nyaman mendengarnya.

“He…stop…stop. Kenapa kita jadinya nyanyi?”, seru Ira. Ia sebenarnya sangat menyukai suara Fikri yang agak berat namun bagus. Sebaliknya, Fikri juga sangat suka suara Ira.

Beberapa pasang mata pengunjung warkop sejenak sempat memerhatikan tingkah keduanya. Segera setelah itu mereka kembali sibuk dengan aktivitas masing-masing.

“Suara Kak Fikri bagus sekali”
“Suara kamu juga asyik”
“Terima kasih. Tapi kita kan sedang menelusuri kampung Virtual?”
“Iya betul. Ayo kita lanjutkan”.

Keduanya lalu bersepakat untuk melanjutkan bacaan dan proses pengenalan lebih jauh atas situs KampungVirtual.id. Fikri segera mengambil laptop miliknya di meja sebelah lalu memasukkannya ke dalam tas ransel miliknya.

“Kenapa laptopnya dimasukkan ke tas. Sudah mau pulang?”
“Tidak. Aku mau nebeng saja di laptopmu biar lebih hemat listrik”
“Eh. Mau gunakan kesempatan ya?”
“Ya tidaklah. Aku hanya ingin mengantarmu keliling kampung virtual”.

Ira mengangguk setuju. Namun satu hal yang masih membuatnya penasaran adalah mengapa Fikri sepertinya sangat akrab dengan situs itu. Ia bertekad segera mengakhiri kepenasannya.

“Kak Fikri. Aku mau tanya satu hal”
“Iya silahkan”
“Sepertinya kak kenal sekali situs ini?”
“Ya pasti. Saya kan salah seorang penulis di situs itu”
“Masya Allah. Berarti dari tadi saya dikerjai?”
“Ya tidaklah. Makanya dari awal saya tawarkan bantuan”.

Ilustrasi. – Foto: Pixabay

Mendengar hal itu, Ira hanya senyum disusul Fikri yang membalasnya sama. Kemudian keduanya pun secara hampir bersamaan menghabisi sisa juice jeruk yang tinggal sedikit dalam gelas.

“Terus Kak Fikri.. KampungVirtual.net itu apa?”
“Nah…itu pusat belanja atau toko Kampung Virtual”
“Berarti kayak kampung nyata..ya?”
“Betul dan bahkan ada juga kampusnya”
“Oh ya. Namanya apa?”
“Akademivirtual.com. Coba saja dibuka”
“Oke kak. Siap!”
“Tapi jangan bingung lagi ya. Jangan tersesat”
“Tersesat…maksudnya?”
“Kamu tersesat di Kampung Virtual”
“Iya deh dan Kak Kavi yang menunjukkan jalan”.

Ira segera melirik jam tangan miliknya dan malam sudah menunjuk pukul 10.00 Wita. Ia sudah harus kembali ke rumah kostnya untuk persiapan kembali ke Tual esok hari menyusul selesainya rangkaian proses studi di Makassar.

“Kak Kavi maaf ya. Malam sudah larut”
“Sudah mau pulang?”
“Iya. Tapi sebelumnya tolong beri tahu aku nama asli kakak”
“Sebenarnya kamu dari awal sudah tepat memberiku nama”
“Namaku Fikri. Jadi Kavi itu kakak Fikri dan kamu hebat memberiku nama”
“Astaga berarti cocok dong. Padahal Kavi masud aku itu singkatan dari Kampung Virtual”

Sejenak keduanya tertawa bersama. Namun beberapa menit kemudian suasana berganti lain. Ira yang sempat menyukai Fikri harus pulang ke Tual dan tidak lama lagi akan menikah dengan pria dari keluarganya sendiri. Hal ini harus selesai malam ini dan mesti disampaikan kepada Fikri meski ini berat rasanya.

Kakak Fikri…maafkan aku karena sudah mau pulang”
“Maksudnya apa. Mau pulang saja minta maaf”
“Aku mau pulang ke Tual besok dan mungkin tidak akan kembali lagi”
“Jadi aku bagaimana?. Aku menyukai kamu”
“Iya aku tahu tapi aku yakin kak bisa temukan cewek yang jauh lebih baik dari aku”.

Mendengar hal itu Fikri sangat kecewa. Baru saja benih-benih cinta itu tumbuh dan kini harus layu serta mungkin akan mati oleh perpisahan ini. Ira menceritakan semua tentang perjodohannya dengan sepupu di Tual, meski baginya sangat berat. Ira juga sangat menyukai Fikri. Tapi bapak dan ibunya yang masing-masing berasal dari Kabupaten Barru dan Pare-Pare, sudah memilihkan calon pendamping hidup. Sementara Ira sendiri sebenarnya juga sedikit ada rasa suka pada pria pilihan orang tuanya itu sewaktu dirinya masih bersekolah di Tual.

Fikri hanya diam mendengar Ira bercerita. Apa boleh buat tidak ada pilihan lain baginya kecuali menerima kenyataan pahit ini. Harapan Fikri hancur. Ia tidak pernah menyangka jika lagu yang barusan dinyanyikan sangat romantis berdua dengan gadis yang dikaguminya, justru menjadi tula bagi hubungan mereka yang singkat itu. Takdir yang meminta mereka harus berpisah seperti pada lagu Malaysia itu. Hanya rindu di kejauhan ternyata yang harus menemani kegelisahan mereka.

Tapi sebagai seorang yang gemar membaca buku-buku motivasi dan pegagum buku “The Magic of Thinking Big” karya David J. Schwartz, Fikri segera bisa menguasai emosinya. Ia berpikir bahwa mungkin ada benarnya juga perkataan Ira. Dirinya akan menemukan wanita yang jauh lebih baik. Fikri hanya pasrah.

Segera setelah laptop milik Ira dimasukkan dalam tas, gadis Tual itu meminta pamit pada Fikri dengan wajah muram. Sementara mimik muka Fikri juga tampak penuh kecewa meski berusaha disembunyikan.

“Aku pamit ya Kak Fikri”, ucap Ira seraya menjabat tangan cowok yang dicintainya meski hanya tiga setengah jam itu.

“Iya….iya…terima kasih”, sahut Fikri sambil mencium tangan Ira seperti saat ciuman tangan dengan ibunya saat lebaran.

“Sekali lagi aku pamit ya. Terima kasih untuk semua bantuanya”

“Iya…jika ingin diantar masuk kampung lagi kamu boleh hubungi aku di via WA”

“Oke kakakku yang baik”.

Senyuman manis Ira untuk yang terakhir kalinya sempat membuat Fikri bahagia di ujung pertemuan itu. Keduanya berjalan keluar meninggalkan warkop.

Ira melambaikan tangan tanda perpisahan dan Fikri pun membalasnya. Hanya senyuman tipis yang tercipta dari bibir-bibir mereka. Beberapa menit kemudian keduanya sudah menghilang ditelan malam. Hanya memory yang kini tertinggal di warkop itu.

*Catatan: tulisan ini fiktif dan jika seandainya ada kesamaan atau kemiripan nama serta kisahnya, itu hanya kebetulan saja.

[Makassar 28.08.2019]

Dimuat di KampungVirtual.id

Topics #Cara Menulis Cerpen #Cerpen Baru #Karya Cerpen Ahmadin #ProFau Fiksi